Senin, 28 Desember 2020

YAR 8 "SAMBUNG LAMPAH"


Youth Alliance Rendezvous

Youth Alliance Rendezvous (YAR) adalah pertemuan aliansi-aliansi para mahasiswa yang kembali dari perantauan tempat mereka menuntut ilmu dan para Pemuda Pacitan. Kembali dengan penuh arti dan berkumpul untuk saling merangkul. 

Serangkaian pengabdian para pemuda kepada Pacitan tercinta. Memberikan selayang pandang dunia perkuliahan pada siswa-siswi yang hendak melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Mengawal pemerintah dengan melakukan konsolidasi. Tetap berinovasi dan berkarya dengan pentas-pentas yang tak lepas dari seni budaya. Karena pemuda sebagai Agent of Change, Iron Stock, dan Social Control.

Sejarah Youth Alliance Rendezvous

Sebagian besar pemuda di Pacitan yang baru saja lulus dari bangku SMA berantusias untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, terutama melanjutkan pendidikan di universitas-universitas ternama di luar kota. Tak sedikit yang berhasil lulus di universitas terbaik di Indonesia, alasan inilah yang menularkan semangat ke generasi-generasi selanjutnya untuk meneruskan langkah para pemuda sebelumnya. Kemudian, para pemuda itu bersikeras bergabung bersama Aliansi Mahasiswa Pacitan yang tersebar di beberapa wilayah luar kota.

Tepat pada tahun 2012, pemuda yang berkuliah di luar kota sedang kembali ke kampung halamannya, Kota Pacitan. Para pemuda itu memanfaatkan momen dengan inisiatif mengadakan kegiatan yang bertujuan untuk menyambung tali silaturahmi kepada teman seperjuangan. Inisiatif para pemuda inilah yang mencetuskan acara YAR. Namun, sebelum kegiatan ini berjudul Youth Alliance Rendezvous, nama yang lebih dulu ditajukkan adalah Battle Alliance.

Battle Alliance pertama kali diinisiasikan oleh KP3 Yogyakarta, Impacts Surabaya, Kappama Malang, dan Kompas Solo. Pada tahun 2013, terbentuklah organisasi kepemudaan daerah yang bernama Pemuda untuk Pacitan (PETUPA). Setelah PETUPA terbentuk, Battle Alliance yang kedua menjadi bagian dari program kerja tahunan PETUPA bersama Aliansi Mahasiswa Pacitan hingga saat ini dan diganti tajuknya menjadi Youth Alliance Rendezvous.

Perlu digaris bawahi bahwasanya dalam kegiatan YAR ini Aliansi Mahasiswa Pacitan bekerja sama dengan PETUPA. Selama hampir 8 tahun, Youth Alliance Rendezvous sudah menjadi aksi tahunan para pemuda sekaligus menjadi tempat untuk menuangkan kerinduan.

Apa Saja yang Ada di Dalam YAR #8?

YAR 8 kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dengan alasan Covid-19 yang juga belum mereda. Namun tidak menjadikan suatu halangan yang besar bagi para pemuda untuk terus bergerak. Dengan semangat pemuda, YAR 8 akan tetap dilaksanakan dengan agenda sebagai berikut:

  • Sosialisasi Perguruan Tinggi

Pendidikan formal merupakan bagian penting dalam mencapai kualitas sumber daya manusia, dengan pendidikan maka individu akan bisa menciptakan pembangunan bangsa dan negara sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi  yang didapat pada bangku pembelajaran. Dari uraian ini petupa mengadakan kegiatan “Campus Fair Online”. Campus Fair Online ini merupakan sarana penginformasian dan sosialisasi kepada adik-adik kita yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Harapannya dengan adanya Campus Fair Online adik-adik kita memiliki pemikiran dan harapan yang luar biasa terhadap pendidikan. Di sisi lain dengan adanya kegiatan ini silaturahmi akan tetap terbangun dari generasi ke generasi. Sehingga terwujudlah suasana kepedulian dan kekompakan pemuda Pacitan.

  • Konsolidasi Pemerintahan Kabupaten Pacitan

Pemerintah merupakan bagian sentral dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Sosialisasi pemerintah terhadap program kerja menuju kesejahteraan masyarakat sangat penting dipertanyakan. Tidak mungkin ada pemerintah jika tidak ada rakyat, dan pemerintah seharusnya merakyat, itu merupakan suatu kewajiban. Ghirah pemuda sebagai sosial kontrol ialah memberikan sumbangsih pemikiran terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah Kabupaten Pacitan, sehingga terwujudlah demokrasi yang terbuka dan transparan. Petupa dengan barisan massa mahasiswa yakin bahwa dengan adanya sambung silaturahmi seperti ini akan terwujud budaya yang guyub dan berpihak terhadap kepentingan masyarakat.

  • Parade Seni Budaya dari Komunitas Mahasiswa

Sinau budaya merupakan tema besar yang diangkat oleh pemuda Pacitan dalam perkembangan isu mengenai kurangnya minat pemuda terhadap budaya di negeri sendiri. Pemahaman kata “sinau” adalah belajar, belajar tanpa henti terhadap seni yang telah di lahirkan di tanah Ibu Pertiwi.  Jika kita bisa memaknai kata belajar dalam konteks seni, “yang namanya belajar seni itu ya harus datang, rajin menyaksikan, dan ikut andil dalam proses belajar seni, dengan demikian kita akan cinta terhadap seni yang telah ada di tanah air”. Strategi ini merupakan bagian pemikiran Petupa yang tidak bisa dipisahkan untuk mencapai pemuda dan manusia pribumi yang bangga dan cinta akan seni budayanya.


Kamis, 03 September 2020

TRADISI TIDAK TERMAKAN PANDEMI

(3 September 2020) Mantren, Kebonagung - Upacara adat Tetaken 2020 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi dunia yang masih diselimuti dengan bayang-bayang korona menyebabkan upacara yang biasanya digelar meriah, untuk tahun ini digelar hanya untuk warga Desa Mantren. Ada rasa yang berbeda memang, namun tidak menghilangkan makna kesakralan upacara adat yang ada di Gunung Limo ini.

Upacara Tetaken diselenggarakan setiap tanggal 15 Muharram yang kebetulan tahun ini jatuh pada tanggal 3 September 2020. Tahun ini digelar hanya cukup dengan doa bersama warga desa. "Upacara Tetaken tahun 2020 hanya khusus untuk warga Desa Mantren karena adanya korona ini. Namun, tanpa mengurangi kesakralan" ujar Kepala Desa Mantren, Bapak Kharis saat kami wawancara sehari sebelum prosesi upacara.

Tetaken yang ada di Gunung Limo ini merupakan bukti budaya yang bersejarah bagi Kabupaten Pacitan. Bagaimanapun kondisi dan situasi, budaya tidak akan pernah mati. Mari kita renungkan, mari kita budayakan, dan mari kita lestarikan.

Salam Pemuda Perubahan. Dari Pemuda untuk Pacitan, dari Pacitan untuk Indonesia.

Senin, 17 Agustus 2020

Pemuda, Sejarah Pergerakan dan Refleksi Kemerdekaan.


Pada tahun 1928, para pemuda dari berbagai daerah bersatu dan telah menanamkan benih Nasionalisme melalui Kongres Sumpah Pemuda. Sejak peristiwa itulah, istilah Indonesia dikenal untuk pulau-pulau yang diduduki oleh Belanda. Lebih ke belakang lagi, lahirnya organisasi Budi Utomo merupakan cikal bakal dari pergerakan nasional hingga memantik kelahiran perjuangan-perjuangan nasional berikutnya. Bisa disebut bahwa pemuda telah berdiri di panggung sejarah ketika jauh sebelum bangsa ini berdiri.


Gelombang gerakan pemuda tiba pada masa proklamasi ketika hantamanya membuat gaduh peristiwa '45. Pasca kemerdekaan, api idealisme pemuda belum padam. Terbukti bahwa bobroknya ekonomi dan krisis politik pada 1965-1966 berhasil membuat gejolak pemuda dan mahasiswa untuk menuntut perubahan yang dikenal dengan TRI TURA (Tiga Tuntutan Rakyat). Hingga ujungnya Orde Lama diruntuhkan. Sampai pada puncak kekecewaan pada Orde Baru, Heroisme pemuda kembali memanas ketika rezim yang berkuasa selama 33 tahun tersebut bertindak Otoriter, serta melanggengkan Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme. Akhirnya pada tahun 1998 terjadilah demonstrasi besar untuk menuntut keadilan. Para pemuda dan mahasiswa telah berhasil merobohkan Orde Baru dengan kekuatan Reformasi.

Dalam lintasan sejarah bangsa ini, bisa dikatakan bahwa pemuda telah menjadi tokoh utama dari berbagai perubahan bangsa. Slogan yang sering terdengar "Pemuda adalah harapan bangsa dan masa depan bangsa ada ditanganya". Seolah mengingatkan pula pada petuah bapak bangsa yang mengatakan "Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia". Pada akhirnya pemuda memiliki kekuatan untuk melahirkan hal-hal besar. Kekuatan pemuda terletak pada gagasanya, kekuatan fisiknya dan kreasinya. Sebuah hal yang memalukan bila pemuda tidak sadar akan potensinya itu. Mengingat bangsa ini haus akan ide segar, semangat baru dan karya inovatif. Dari siapa lagi jika bukan kita, para pemuda. 

Jika kita bandingkan perjuangan kita dengan pemuda dahulu sebelum kemerdekaan. Musuh pemuda dahulu adalah pistol yang bukan hanya membunuh nyawa namun juga merenggut asa. Perjuangan yang diliputi keterbatasan adalah tantangan pemuda pada era dahulu. Baik terbatas secara ide karena kurangnya pendidikan maupun terbatas secara fisik karena kendala logistik. Perbandingan yang kontras dengan sekarang ketika telah merdeka. Perjuangan kita cukup duduk di depan meja belajar, aktif mengikuti organisasi kepemudaan, melestarikan seni budaya dan berbakti kepada masyarakat. Perjuangan bisa kita lakukan dengan sederhana namun syarat akan makna. 

Perjuangan kita sekarang bukanlah melawan penjajah tinggi berkulit putih. Melainkan berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Jangan sampai negara ini sudah memproklamasikan kemerdekaan namun rakyatnya masih dalam belenggu penjajahan yang  menghambat kemajuan. Selalu ingat nasihat bapak bangsa bahwasanya "Merdeka bukanlah tujuan malainkan adalah jembatan untuk mencapai tujuan". Di mana ujung Jembatan kemerdekaan adalah gerbang untuk menuju kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, perdamaian abadi dan keadilan sosial untuk seluruh rakyat Indonesia. 


Penulis : Yusuf Mukib
Editor : Irvan Bayu

Rabu, 22 Juli 2020

Keluarga, Pendidikan Anak dan Hari Anak Nasional.

Momentum hari anak nasional pada tahun kali ini terpaksa tidak digelar seperti biasanya. Bila momentum normalnya terselenggara acara meriah di berbagai daerah, maka pada kali ini justru menjadi waktu yang tepat untuk memaknainya secara esensial.

Pendidikan formal di masa pandemi ini merubah formasi yang sebelumnya diajarkan guru, kini diajarkan orang tua. Orang tua mau tidak mau harus menambah porsi ekstranya untuk membagi pekerjaan dan perannya. Dan setidaknya, sebagai orang tua pun harus pandai-pandai mengambil hikmah, di antaranya adalah dengan  timbulnya kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab orang tua dan bukan hanya guru di sekolahan. Terlebih dari itu, orang tua sudah selayaknya memberikan pendidikan secara intensif. Demikian juga orang tua tidak melimpahkan beban pendidikan hanya kepada institusi pendidikan. Mengingat di pendidikan itu tidak hanya formal, namun ada informal, dan non formal.

Secara sosiologis, keluarga memiliki fungsi pendidikan. Sementara itu, orang tua merupakan komponen terpenting dalam pelaksanaan fungsi tersebut. Sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk melaksanakan fungsi pendidikan. Tak hanya orang tua, semua keluarga pun harus terlibat dalam menciptakan iklim pendidikan di keluarga.

Sebuah kabar yang buruk bisa terjadi bila sekolah hampir libur setengah tahun dan menghasilkan IQ nasional drop karena terpangkas oleh pandemi. Apalagi, dulu kita pernah bergembira menyambut generasi emas dan bonus demografi. Namun hal itu akan menjadi distopia bila anak-anak yang menjadi tonggak masa depan harus rela tidak terpenuhi nutrisi pendidikanya. Kita mengakui bahwa pendidikan adalah modal untuk menapaki tangga masa depan. Pada saat ini keluarga adalah titik tumpuan pendidikan. Keluarga adalah jembatan untuk menapaki tangga masa depan, pendidikan adalah hak anak yang harus dilindungi.

Senin, 08 Juni 2020

Sisi lain "New Normal"

PE-TALK(Pemuda Talk) Berbicara Mengenai Covid 19.

Pemuda untuk Pacitan atau biasa disebut PETUPA telah  menyelenggarakan PE-TALK (PEMUDA-TALK) guna mengedukasi masyarakat berkaitan isu-isu terkini dengan mendatangkan narasumber ahli. PE-TALK (PEMUDA TALK) ini disiarkan langsung melalui platform Instagram dan nantinya akan dipublikasikan di kanal Youtube PETUPA. Program ini diagendakan sebagai pergerakan dari Pemuda untuk Pacitan (PETUPA) dalam mengisi waktu selama Work From Home (WFH) dan akan digelar dengan beberapa topik berbeda dalam waktu berkala. 

PE-TALK episode pertama kali ini bertopik Sisi Lain “New Normal”. Diselenggarakan pada hari Rabu, 3 Juni 2020 pukul 19.00–20.00 WIB bertempat di kediaman Prastyo Aji, Ketua umum PETUPA 2018-2019. Acara ini dimoderatori oleh Sega Ramayani (mahasiswa UGM) dengan narasumber Rois Nahdhuddin (Dokter muda, sekaligus senior PETUPA). Acara ini merupakan respon untuk menjawab keresahan masyarakat dari perspektif pemuda yang disampaikan melalui open question pada postingan PETUPA di hari sebelumnya. Selain itu juga sebagai ruang untuk mendiskusikan terhadap adanya rencana penerapan “New Normal” untuk keberlanjutan kehidupan masyarakat yang diawali dengan sekilas pembahasan COVID-19 sebagai latar belakang adanya kebijakan baru.

Dalam sesi diskusi, Dokter Muda tersebut memaparkan beberapa poin-poin penting yang perlu diperhatikan saat menghadapi Covid-19.  Di antaranya berkaitan dengan selayang pandang Covid-19, pematuhan protokol kesehatan, tanggapan mengenai teori konspirasi, penerapan New Normal dan kiat-kiat ketika hidup dalam New Normal.
Tidak lupa, dalam diskusi juga dibuka sesi pertanyaan melalui live Instagram. Ada banyak pertanyaan yang diajukan oleh warganet, namun karena keterbatasan waktu hanya dapat menjawab tiga pertanyaan. 

"Virus Covid-19 memang nyata. Yang harus kita hadapi adalah virus tersebut. Terlepas dari apakah itu konspirasi atau tidak, tapi yang jelas kita harus berperang melawan virus tersebut." Ujar Dokter lulusan SMAN 1 Pacitan tersebut dalam menanggapi teori konspirasi yang beredar di berbagai media sosial. 

Dalam penjelasanya, Dokter Rois juga menyatakan bahwa "Yang banyak melanggar protokol kesehatan adalah anak muda. Anak muda juga yang rentang menjadi OTG (Orang Tanpa Gejala). Sehingga dapat membahayakan orang-orang di sekitar."

Berhubungan dengan New normal, Doker Rois menjelaskan bahwa "New Normal bukanlah hidup normal seperti dulu, melainkan hidup dengan normal yang baru. Normal yang baru adalah kekonsistenan dengan mematuhi protokol kesehatan. Dengan kata lain kita hidup normal namun tetap berdampingan dengan virus tersebut. Adapun New Normal akan berdampak buruk sampai memicu terjadinya gelombang kedua jika tidak ada kesiapan masyarakat dalam melaksanakan syarat-syarat New Normal. Namun dampak positif New Normal adalah kembali tumbuhnya ekonomi."

Program ini sangat penting untuk terus dilaksanakan. Hal ini dikarenakan sebagai perwujudan dari kontribusi nyata sebagai peran pemuda untuk Indonesia dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui diskusi ini, supaya para pemuda terus meng-upgrade diri dengan wawasan dan pengetahuan untuk tetap update dan tidak tertinggal.

Senin, 01 Juni 2020

1 Juni, Merawat Perbedaan.


    1 juni 1945 merupakan momen penting bagi bangsa Indonesia. Sejarah mencatat pada tanggal itu seorang orator ulung bernama Soekarno berpidato menawarkan gagasanya mengenai dasar negara. Kita kenal ide soekarno tersebut dengan nama Pancasila. Walaupun dalam perkembanganya banyak yang dimodifikasi, pidato Soekarno tersebut menutup persidangan yang memakan waktu 3 hari dengan kesepatakan bahwa Pancasila dijadikan sebagai falsafah dasar negara Indonesia yang baru lahir tersebut.

Sampai sekarang bangsa Indonesia tetap merawat ingatan sejarahnya, Terbukti setiap 1 Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila. 1 Juni setidaknya bukan hanya sebagai tanggal merah di kalender tetapi sebagai catatan merah dalam sejarah untuk pengingat kita dalam merefleksikan esensi nilai pancasila. Mengingat dalam perjalananya, seringkali banyak yang mengklaim bahwa dirinya sebagai seorang Pancasilais, bahwa Pancasila rentan dijadikan alat politik, bahwa atas nama Pancasila seorang dapat melegitimasi berbagai kebencian, konflik dan perpecahan, bahwa atas nama Pancasila seorang diktator dapat berkuasa salama 32 tahun, bahwa atas nama Pancasila seorang dengan gampangnya berkata “Anda tidak Pancasilais, keluar saja dari NKRI”. Parah juga ada yang mengatakan bahwa “ Komunis, Sosialis, Liberal dan Khilafah tidak cocok dengan Pancasila, idelogi seperti itu harus dibuang jauh dari Indonesia”. Jika seperti itu, sungguh pemikiran yang anti keberagaman/kebinekaan Apakah seperti itu pancasila?

Kita sepakat bahwa Pancasila adalah pandangan terbuka. Untuk membaca Pancasila, kita juga harus paham bahwa Seokarno memiliki latar belakang pemikiran yang beragam. Pemikiran Seokarno terpengaruhi oleh Marxisme, Sosialisme, Religius, dan Nasionalisme. Sehingga itu mempengaruhi ketika meracik Pancasila. Bumbu pemikiran Soekarno begitu beragam karena ia terbuka dengan segala khazanah pemikiran global. Konsekuensi ketika menjadikan pancasila sebagai pandangan terbuka adalah Pancasila terbuka dengan masukan dari berbagai ideologi dan pemikiran dunia. Terbuka juga bisa diartikan bahwa Pancasila bisa diinterpretasikan oleh semua orang, bukan hanya penguasa. Dengan kata lain Pancasila tidak menutup diri untuk ditafsirkan. Orang Islam berhak menafsirkan karena di sila ke satu berbunyi ketuhanan, seorang nasionalis berhak menafsirkan karena di sila tiga berbunyi persatuan, seorang Sosialisme/Marxisme berhak menafsirkan karena di sila ke 5 berbunyi keadilan sosial. Bukan hanya seorang yang berideologi, namun semua orang berhak menafsirkan Pancasila sesuai dengan latar belakang pemikiranya. Dengan demikian Pancasila bukan seperti dogma yang harus kita imani, akan tetapi sebagai alat berpikir yang dinamis untuk berbagai persoalan bangsa dalam menghadapi perkembangan zaman.


Sebagai seorang konseptor Pancasila, Soekarno mengatakan bahwa Pancasila adalah dasar sebagai pemersatu bangsa. Soekarno memaknai bahwa Pancasila sebagai alat untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang memiliki perbedaan latar belakang aliran politik, ideologi, etnis, suku, agama dan budaya. Bung karno memahami bahwa untuk menjadi bangsa yang satu dan utuh, Indonesia membutuhkan suatu dasar yang bisa mengakomodir berbagai perbedaan. Bukan hanya itu, bagi Soekarno, persatuan adalah jalan satu-satunya dalam memperjuangkan Indonesia untuk merdeka ketika melawan penjajahan. Hal itu karena pergerakan yang dilakukan secara bergolongan akan mudah diruntuhkan. Sehingga Pancasila telah disepakati sebagai meja diskusi dalam membahas masa depan bangsa.

Maka dari itu ketika ada seorang yang memiliki pandangan lain soal dasar negara, tidak layak kita kucilkan,kerdilkan dan tuding sebagai anti NKRI. Karena Pancasila adalah pandangan terbuka atas perbedaan dan penafsiran dan Pancasila sendiri terwujud dari kesepatakan para pendiri bangsa yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Bahkan Pancasila sendiri dapat diganti, sebagai dasar negara konstitusi mengijinkan untuk merubah dasar negara. Sehingga sakralisasi terhadap Pancasila adalah hal yang begitu aneh dan mengarah pada fanatisme buta ide. Dengan kita memaknai Pancasila sebagai pandangan terbuka maka kita telah membuat Pancasila menjadi selalu relevan dalam berbagai perkembangan zaman. Sebagaimana sikap terhadap keberagaman, Pancasila harus menjadi alat pemersatu yang mengakomodir berbagi perbedaan di Indonesia.


Garuda Pancasila dengan kaki yang mencengkeram pita bertuliskan "Bhineka Tunggal Ika" yang berarti Pancasila menggenggam erat perbedaan untuk persatuan bukan persatuan yang membeda-bedakan.

Minggu, 12 April 2020

Panik Bukan Solusi

Kepanikan Memperkeruh Kegentingan. 
Kewaspadaan Menjernihkan Kegentingan.

Kepanikan adalah hal yang umum terjadi saat dihadapkan dengan kegentingan. Covid 19 merupakan wabah penyakit yang berskala global, disebut juga dengan pandemi. Semua negara merasakan kegentingan sama. Masyarakat dunia merasakan takut, terancam dan kawatir atas sebaran virus dan beragam kabar buruk yang digaungkan media. Mengingat sampai saat ini korban tewas telah mencapai puluhan ribu secara global.

Akan tetapi, yang tidak kalah bahaya dari ancaman virus tersebut adalah reaksi kepanikan. Kepanikan dapat membawa seseorang untuk bertingkah secara berlebihan hingga kemudian justru bertindak kontraproduktif. Hal itu terjadi karena kepanikan merupakan reaksi awal yang memancing emosional, bukan rasional.

Akibat dari kepanikan justru dapat melahirkan virus-virus baru. Seperti virus kerakusan dengan memborong semua masker, hand sanitazier dan peralatan kesehatan lainya tanpa berpikir kepentingan bersama.

Yang berbahaya lagi dari kepanikan, adalah dapat memicu mental menjadi lemah, sehingga dapat memungkinkan imunitas tubuh menurun dan jika imunitas tubuh menurun maka sangat mudah pula terserang virus.


Memang sulit mengendalikan kepanikan. Namun kita bisa melatihnya dengan mencoba untuk tenang dan mengendalikan pikiran. Bukan kepanikan, melainkan kewaspadaan yang harus kita tanamkan. Dengan selalu waspada kita akan terbiasa untuk melihat situasi secara cermat. Sehingga dengan mudah mengantisipasi kegentingan ini dengan langkah-langkah yang efektif.

Kewaspadaan yang dapat kita lakukan bisa meliputi; menaati prosedur pemerintah, mencari informasi serta saling berbagai berita baik, tetap berdiam diri di rumah (physical distancing) dan mengisi waktu di rumah dengan kegiatan produktif.


"Kepanikan adalah separuh penyakit. 
Ketenangan adalah separuh obat.
Dan kesabaran adalah awal kesembuhan." 
- Ibnu Sina.

Sinergitas Sebagai Upaya Pelestarian Budaya

Harapan kami mulai tercerahkan dengan tersebarnya pamflet yang mengusung tema "Ngobrol Bareng Mas Bupati dengan Pelaku Seni...