Rabu, 22 Juli 2020

Keluarga, Pendidikan Anak dan Hari Anak Nasional.

Momentum hari anak nasional pada tahun kali ini terpaksa tidak digelar seperti biasanya. Bila momentum normalnya terselenggara acara meriah di berbagai daerah, maka pada kali ini justru menjadi waktu yang tepat untuk memaknainya secara esensial.

Pendidikan formal di masa pandemi ini merubah formasi yang sebelumnya diajarkan guru, kini diajarkan orang tua. Orang tua mau tidak mau harus menambah porsi ekstranya untuk membagi pekerjaan dan perannya. Dan setidaknya, sebagai orang tua pun harus pandai-pandai mengambil hikmah, di antaranya adalah dengan  timbulnya kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab orang tua dan bukan hanya guru di sekolahan. Terlebih dari itu, orang tua sudah selayaknya memberikan pendidikan secara intensif. Demikian juga orang tua tidak melimpahkan beban pendidikan hanya kepada institusi pendidikan. Mengingat di pendidikan itu tidak hanya formal, namun ada informal, dan non formal.

Secara sosiologis, keluarga memiliki fungsi pendidikan. Sementara itu, orang tua merupakan komponen terpenting dalam pelaksanaan fungsi tersebut. Sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk melaksanakan fungsi pendidikan. Tak hanya orang tua, semua keluarga pun harus terlibat dalam menciptakan iklim pendidikan di keluarga.

Sebuah kabar yang buruk bisa terjadi bila sekolah hampir libur setengah tahun dan menghasilkan IQ nasional drop karena terpangkas oleh pandemi. Apalagi, dulu kita pernah bergembira menyambut generasi emas dan bonus demografi. Namun hal itu akan menjadi distopia bila anak-anak yang menjadi tonggak masa depan harus rela tidak terpenuhi nutrisi pendidikanya. Kita mengakui bahwa pendidikan adalah modal untuk menapaki tangga masa depan. Pada saat ini keluarga adalah titik tumpuan pendidikan. Keluarga adalah jembatan untuk menapaki tangga masa depan, pendidikan adalah hak anak yang harus dilindungi.

Senin, 08 Juni 2020

Sisi lain "New Normal"

PE-TALK(Pemuda Talk) Berbicara Mengenai Covid 19.

Pemuda untuk Pacitan atau biasa disebut PETUPA telah  menyelenggarakan PE-TALK (PEMUDA-TALK) guna mengedukasi masyarakat berkaitan isu-isu terkini dengan mendatangkan narasumber ahli. PE-TALK (PEMUDA TALK) ini disiarkan langsung melalui platform Instagram dan nantinya akan dipublikasikan di kanal Youtube PETUPA. Program ini diagendakan sebagai pergerakan dari Pemuda untuk Pacitan (PETUPA) dalam mengisi waktu selama Work From Home (WFH) dan akan digelar dengan beberapa topik berbeda dalam waktu berkala. 

PE-TALK episode pertama kali ini bertopik Sisi Lain “New Normal”. Diselenggarakan pada hari Rabu, 3 Juni 2020 pukul 19.00–20.00 WIB bertempat di kediaman Prastyo Aji, Ketua umum PETUPA 2018-2019. Acara ini dimoderatori oleh Sega Ramayani (mahasiswa UGM) dengan narasumber Rois Nahdhuddin (Dokter muda, sekaligus senior PETUPA). Acara ini merupakan respon untuk menjawab keresahan masyarakat dari perspektif pemuda yang disampaikan melalui open question pada postingan PETUPA di hari sebelumnya. Selain itu juga sebagai ruang untuk mendiskusikan terhadap adanya rencana penerapan “New Normal” untuk keberlanjutan kehidupan masyarakat yang diawali dengan sekilas pembahasan COVID-19 sebagai latar belakang adanya kebijakan baru.

Dalam sesi diskusi, Dokter Muda tersebut memaparkan beberapa poin-poin penting yang perlu diperhatikan saat menghadapi Covid-19.  Di antaranya berkaitan dengan selayang pandang Covid-19, pematuhan protokol kesehatan, tanggapan mengenai teori konspirasi, penerapan New Normal dan kiat-kiat ketika hidup dalam New Normal.
Tidak lupa, dalam diskusi juga dibuka sesi pertanyaan melalui live Instagram. Ada banyak pertanyaan yang diajukan oleh warganet, namun karena keterbatasan waktu hanya dapat menjawab tiga pertanyaan. 

"Virus Covid-19 memang nyata. Yang harus kita hadapi adalah virus tersebut. Terlepas dari apakah itu konspirasi atau tidak, tapi yang jelas kita harus berperang melawan virus tersebut." Ujar Dokter lulusan SMAN 1 Pacitan tersebut dalam menanggapi teori konspirasi yang beredar di berbagai media sosial. 

Dalam penjelasanya, Dokter Rois juga menyatakan bahwa "Yang banyak melanggar protokol kesehatan adalah anak muda. Anak muda juga yang rentang menjadi OTG (Orang Tanpa Gejala). Sehingga dapat membahayakan orang-orang di sekitar."

Berhubungan dengan New normal, Doker Rois menjelaskan bahwa "New Normal bukanlah hidup normal seperti dulu, melainkan hidup dengan normal yang baru. Normal yang baru adalah kekonsistenan dengan mematuhi protokol kesehatan. Dengan kata lain kita hidup normal namun tetap berdampingan dengan virus tersebut. Adapun New Normal akan berdampak buruk sampai memicu terjadinya gelombang kedua jika tidak ada kesiapan masyarakat dalam melaksanakan syarat-syarat New Normal. Namun dampak positif New Normal adalah kembali tumbuhnya ekonomi."

Program ini sangat penting untuk terus dilaksanakan. Hal ini dikarenakan sebagai perwujudan dari kontribusi nyata sebagai peran pemuda untuk Indonesia dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui diskusi ini, supaya para pemuda terus meng-upgrade diri dengan wawasan dan pengetahuan untuk tetap update dan tidak tertinggal.

Senin, 01 Juni 2020

1 Juni, Merawat Perbedaan.


    1 juni 1945 merupakan momen penting bagi bangsa Indonesia. Sejarah mencatat pada tanggal itu seorang orator ulung bernama Soekarno berpidato menawarkan gagasanya mengenai dasar negara. Kita kenal ide soekarno tersebut dengan nama Pancasila. Walaupun dalam perkembanganya banyak yang dimodifikasi, pidato Soekarno tersebut menutup persidangan yang memakan waktu 3 hari dengan kesepatakan bahwa Pancasila dijadikan sebagai falsafah dasar negara Indonesia yang baru lahir tersebut.

Sampai sekarang bangsa Indonesia tetap merawat ingatan sejarahnya, Terbukti setiap 1 Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila. 1 Juni setidaknya bukan hanya sebagai tanggal merah di kalender tetapi sebagai catatan merah dalam sejarah untuk pengingat kita dalam merefleksikan esensi nilai pancasila. Mengingat dalam perjalananya, seringkali banyak yang mengklaim bahwa dirinya sebagai seorang Pancasilais, bahwa Pancasila rentan dijadikan alat politik, bahwa atas nama Pancasila seorang dapat melegitimasi berbagai kebencian, konflik dan perpecahan, bahwa atas nama Pancasila seorang diktator dapat berkuasa salama 32 tahun, bahwa atas nama Pancasila seorang dengan gampangnya berkata “Anda tidak Pancasilais, keluar saja dari NKRI”. Parah juga ada yang mengatakan bahwa “ Komunis, Sosialis, Liberal dan Khilafah tidak cocok dengan Pancasila, idelogi seperti itu harus dibuang jauh dari Indonesia”. Jika seperti itu, sungguh pemikiran yang anti keberagaman/kebinekaan Apakah seperti itu pancasila?

Kita sepakat bahwa Pancasila adalah pandangan terbuka. Untuk membaca Pancasila, kita juga harus paham bahwa Seokarno memiliki latar belakang pemikiran yang beragam. Pemikiran Seokarno terpengaruhi oleh Marxisme, Sosialisme, Religius, dan Nasionalisme. Sehingga itu mempengaruhi ketika meracik Pancasila. Bumbu pemikiran Soekarno begitu beragam karena ia terbuka dengan segala khazanah pemikiran global. Konsekuensi ketika menjadikan pancasila sebagai pandangan terbuka adalah Pancasila terbuka dengan masukan dari berbagai ideologi dan pemikiran dunia. Terbuka juga bisa diartikan bahwa Pancasila bisa diinterpretasikan oleh semua orang, bukan hanya penguasa. Dengan kata lain Pancasila tidak menutup diri untuk ditafsirkan. Orang Islam berhak menafsirkan karena di sila ke satu berbunyi ketuhanan, seorang nasionalis berhak menafsirkan karena di sila tiga berbunyi persatuan, seorang Sosialisme/Marxisme berhak menafsirkan karena di sila ke 5 berbunyi keadilan sosial. Bukan hanya seorang yang berideologi, namun semua orang berhak menafsirkan Pancasila sesuai dengan latar belakang pemikiranya. Dengan demikian Pancasila bukan seperti dogma yang harus kita imani, akan tetapi sebagai alat berpikir yang dinamis untuk berbagai persoalan bangsa dalam menghadapi perkembangan zaman.


Sebagai seorang konseptor Pancasila, Soekarno mengatakan bahwa Pancasila adalah dasar sebagai pemersatu bangsa. Soekarno memaknai bahwa Pancasila sebagai alat untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang memiliki perbedaan latar belakang aliran politik, ideologi, etnis, suku, agama dan budaya. Bung karno memahami bahwa untuk menjadi bangsa yang satu dan utuh, Indonesia membutuhkan suatu dasar yang bisa mengakomodir berbagai perbedaan. Bukan hanya itu, bagi Soekarno, persatuan adalah jalan satu-satunya dalam memperjuangkan Indonesia untuk merdeka ketika melawan penjajahan. Hal itu karena pergerakan yang dilakukan secara bergolongan akan mudah diruntuhkan. Sehingga Pancasila telah disepakati sebagai meja diskusi dalam membahas masa depan bangsa.

Maka dari itu ketika ada seorang yang memiliki pandangan lain soal dasar negara, tidak layak kita kucilkan,kerdilkan dan tuding sebagai anti NKRI. Karena Pancasila adalah pandangan terbuka atas perbedaan dan penafsiran dan Pancasila sendiri terwujud dari kesepatakan para pendiri bangsa yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Bahkan Pancasila sendiri dapat diganti, sebagai dasar negara konstitusi mengijinkan untuk merubah dasar negara. Sehingga sakralisasi terhadap Pancasila adalah hal yang begitu aneh dan mengarah pada fanatisme buta ide. Dengan kita memaknai Pancasila sebagai pandangan terbuka maka kita telah membuat Pancasila menjadi selalu relevan dalam berbagai perkembangan zaman. Sebagaimana sikap terhadap keberagaman, Pancasila harus menjadi alat pemersatu yang mengakomodir berbagi perbedaan di Indonesia.


Garuda Pancasila dengan kaki yang mencengkeram pita bertuliskan "Bhineka Tunggal Ika" yang berarti Pancasila menggenggam erat perbedaan untuk persatuan bukan persatuan yang membeda-bedakan.

Minggu, 12 April 2020

Panik Bukan Solusi

Kepanikan Memperkeruh Kegentingan. 
Kewaspadaan Menjernihkan Kegentingan.

Kepanikan adalah hal yang umum terjadi saat dihadapkan dengan kegentingan. Covid 19 merupakan wabah penyakit yang berskala global, disebut juga dengan pandemi. Semua negara merasakan kegentingan sama. Masyarakat dunia merasakan takut, terancam dan kawatir atas sebaran virus dan beragam kabar buruk yang digaungkan media. Mengingat sampai saat ini korban tewas telah mencapai puluhan ribu secara global.

Akan tetapi, yang tidak kalah bahaya dari ancaman virus tersebut adalah reaksi kepanikan. Kepanikan dapat membawa seseorang untuk bertingkah secara berlebihan hingga kemudian justru bertindak kontraproduktif. Hal itu terjadi karena kepanikan merupakan reaksi awal yang memancing emosional, bukan rasional.

Akibat dari kepanikan justru dapat melahirkan virus-virus baru. Seperti virus kerakusan dengan memborong semua masker, hand sanitazier dan peralatan kesehatan lainya tanpa berpikir kepentingan bersama.

Yang berbahaya lagi dari kepanikan, adalah dapat memicu mental menjadi lemah, sehingga dapat memungkinkan imunitas tubuh menurun dan jika imunitas tubuh menurun maka sangat mudah pula terserang virus.


Memang sulit mengendalikan kepanikan. Namun kita bisa melatihnya dengan mencoba untuk tenang dan mengendalikan pikiran. Bukan kepanikan, melainkan kewaspadaan yang harus kita tanamkan. Dengan selalu waspada kita akan terbiasa untuk melihat situasi secara cermat. Sehingga dengan mudah mengantisipasi kegentingan ini dengan langkah-langkah yang efektif.

Kewaspadaan yang dapat kita lakukan bisa meliputi; menaati prosedur pemerintah, mencari informasi serta saling berbagai berita baik, tetap berdiam diri di rumah (physical distancing) dan mengisi waktu di rumah dengan kegiatan produktif.


"Kepanikan adalah separuh penyakit. 
Ketenangan adalah separuh obat.
Dan kesabaran adalah awal kesembuhan." 
- Ibnu Sina.

Rabu, 19 Februari 2020

Berbagai OKP dan Komunitas Mahasiswa Pacitan Berkumpul Dalam Diskusi Cangkrukan Pemuda.

Berbagai OKP dan Komunitas Mahasiswa Pacitan Berkumpul Dalam Diskusi Cangkrukan Pemuda. 


19 Februari 2020 bertempat di IKM Center Pasaran Sawo, DPD KNPI Kabupaten Pacitan berhasil melaksanakan kegiatan Cangkrukan Pemuda. Kegiatan tersebut mengambil tema "Menakar Keberhasilan Kabupaten Layak Pemuda Sebagai Refleksi Hajatan 275".

Tema yang dibahas dalam acara ini merupakan refleksi kelayakan Pacitan dalam hal kepemudaan berkaitan dengan terpilihnya Kabupaten Pacitan sebagai kota layak pemuda tingkat madya tahun 2019. Sekaligus dalam rangka menyambut hari jadi Pacitan yang ke 275 tahun. 

Kegiatan Cangkrukan Pemuda dihadiri oleh berbagai organisasi kepemudaan dan komunitas mahasiswa di Pacitan.  Di antaranya yaitu HMI,  GMNI, IMM, PMII,  PETUPA,  DPM STKIP, BEM STKIP, BEM STITNU,  BEM STITMUH dsb. Dalam kesempatan diskusi mereka saling bertanya,  memberi masukan dan berargumentasi mengenai berbagai persoalan pemuda di kota Pacitan.
 

"Tujuan kami menyelenggarakan kegiatan ini adalah untuk mempererat silaturahmi antar organisasi kepemudaan dan mahasiswa di Pacitan serta sebagai tempat untuk mewadahi aspirasi pemuda demi terwujudnya pergerakan pemuda Pacitan yang inovatif dan kreatif."  Ungkap Prastyo Aji selaku ketua penyelenggara Cangkrukan Pemuda. 


"Dari terlaksananya Cangkrukan Pemuda tersebut kami berharap ada tindak lanjut mengenai hasil diskusi dan di lain kesempatan ingin berdiskusi lebih intensif dengan menyertakan para pemangku kebijakan supaya aspirasi dapat terdengar secara langsung."  Ujar dari mantan ketua PETUPA tersebut.

Selasa, 18 Februari 2020

Refleksi Pergerakan Permuda, Untuk Pacitan 275 Tahun.

Refleksi Pergerakan Permuda,  Untuk Pacitan 275 Tahun. 

275 tahun merupakan umur yang cukup tua bagi berdirinya sebuah kota.  Pahit manis sejarah dilalui oleh kota ini.  Badai hujan petir masih setia menunggu di depan sana. Kesenjangan sosial,  hegemoni ekonomi, pernikahan dini, rendahnya tingkat pendidikan serta ancaman bencana alam merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi bersama. 

Untuk menjawab persoalan itu dibutuhkan sebuah pergerakan yang mampu memberikan perubahan baru. Demikianlah juga apa yang harus dilakukan pemuda. Sudah seharusnya pemuda sebagai agen perubahan memiliki kepekaan isu sosial dalam upaya untuk menghadapi problematika tersebut. 

Pemuda dan Perubahan sudah menjadi term yang identik.  Ibaratnya kacamata, perubahan ada dalam  kacamata pemuda.  Terlepas apakah kacamata itu dipakai atau tidak. 

Pemuda yang memiliki karakter semangat ber api - api akan terus menyala. Namun,  api semangat seringkali padam. Entah bagaimana tetapi selama bara api itu belum menjadi arang masih ada harapan untuk kembali menyala. 

Akan tetapi juga,  perubahan tidaklah semudah menyalakan api.  Perubahan hanya akan datang kepada orang - orang yang mau berjerih payah.  Ia rela merasakan sengsara dan menunda kenikmatan.  Ia juga rela waktunya dihabiskan untuk berpikir,  beraksi dan berefleksi. 

Pemuda bukan hanya memikirkan dunia asmara tetapi ia harus turut andil dalam memperbaiki kesalahan paradigma.  Pemuda bukan hanya komentar di dunia maya tetapi ia harus berani berbicara dalam aksi nyata.  Pemuda bukan hanya hobi selfie tetapi ia harus mampu bersaing dalam modernisasi.  Pemuda bukan hanya ikut ikut organisasi tetapi ia harus mau mencari jati diri. 

Perubahan bukanlah slogan dan pemuda adalah perubahan.  Seperti itulah pemuda yang kita harapkan bersama. 

Lalu,  yang menjadi pertanyaan. Apakah kita sudah menjalankan tugas kita sebagai pemuda?  Semoga kalian menemukan jawabannya.

Selamat hari jadi yang ke-275 kota tercintaku, Pacitan. Kami barisan para pemuda akan selalu mengawalmu.

Senin, 17 Februari 2020

MAWAS DIRI, NGLARAS BUMI

Aksi dan Diskusi Komunitas Pegiat Lingkungan Memperingati Hari Sampah Nasional. 

Dalam menyambut hari sampah Nasional tanggal 21 Februari 2020,  komunitas pegiat lingkungan yang terdiri dari Guritan, Seasoldier dan Trash Hero Pacitan mengadakan kegiatan Green Camp yang digelar di Pantai Srau pada tanggal 16 - 17 Februari 2020.

Kegiatan tersebut bertemakan Mawas Diri Nglaras Bumi dengan acara inti diskusi lintas komunitas dan bersih - bersih disekitar bibir Pantai Srau.

 "Mawas Diri Nglaras Bumi memiliki arti sebagai langkah kita untuk selalu berhati - hati dalam setiap kegiatan yang kita lakukan untuk bumi.  Bagaimana kita memanfaatkan sumber daya alam dengan bijak dan hidup berdampingan dengan alam secara seimbang" Ujar Hana selaku ketua penyelenggara Green Camp

Adapun peserta dari Green Camp ini terdiri dari berbagai komunitas yang ada di Pacitan,  Ponorogo dan Surabaya.

Komunitas dari Pacitan dihadiri oleh Mapala Kalaphatar,  Petupa,  Anak Sungai,  SMKN 2 Pacitan, Relawan Bencana Pacitan,  Teman Ngopi dan Karang Taruna desa Candi.  Sementara itu, komunitas dari Ponorogo dihadiri  Pustaka Gerilya dan Surabaya dihadiri oleh Seasoldier Surabaya. 

Kegiatan hari pertama adalah diskusi dengan 3 narasumber yakni, Agnesia Walandau dari Seasoldier, Insya Sabirin dari Pacitan Speologi Club Indonesia dan Suwardi dari Komunitas Anak Sungai.  Setelah itu dihari kedua dilaksanakan bersih bersih di sekitar bibir pantai dengan total sampah yang dikumpulkan seberat 60 kg. 

"Tujuan Kami mengadakan Green Camp adalah supaya terjalin guyup rukun antar sesama komunitas dan menguatkan pergerakan dalam menghadapi fenomena krisis lingkungan sebagai upaya mewujudkan bumi yang lestari." Ungkap salah satu anggota Seasoldier Pacitan tersebut.

Sinergitas Sebagai Upaya Pelestarian Budaya

Harapan kami mulai tercerahkan dengan tersebarnya pamflet yang mengusung tema "Ngobrol Bareng Mas Bupati dengan Pelaku Seni...