Senin, 08 Juni 2020

Sisi lain "New Normal"

PE-TALK(Pemuda Talk) Berbicara Mengenai Covid 19.

Pemuda untuk Pacitan atau biasa disebut PETUPA telah  menyelenggarakan PE-TALK (PEMUDA-TALK) guna mengedukasi masyarakat berkaitan isu-isu terkini dengan mendatangkan narasumber ahli. PE-TALK (PEMUDA TALK) ini disiarkan langsung melalui platform Instagram dan nantinya akan dipublikasikan di kanal Youtube PETUPA. Program ini diagendakan sebagai pergerakan dari Pemuda untuk Pacitan (PETUPA) dalam mengisi waktu selama Work From Home (WFH) dan akan digelar dengan beberapa topik berbeda dalam waktu berkala. 

PE-TALK episode pertama kali ini bertopik Sisi Lain “New Normal”. Diselenggarakan pada hari Rabu, 3 Juni 2020 pukul 19.00–20.00 WIB bertempat di kediaman Prastyo Aji, Ketua umum PETUPA 2018-2019. Acara ini dimoderatori oleh Sega Ramayani (mahasiswa UGM) dengan narasumber Rois Nahdhuddin (Dokter muda, sekaligus senior PETUPA). Acara ini merupakan respon untuk menjawab keresahan masyarakat dari perspektif pemuda yang disampaikan melalui open question pada postingan PETUPA di hari sebelumnya. Selain itu juga sebagai ruang untuk mendiskusikan terhadap adanya rencana penerapan “New Normal” untuk keberlanjutan kehidupan masyarakat yang diawali dengan sekilas pembahasan COVID-19 sebagai latar belakang adanya kebijakan baru.

Dalam sesi diskusi, Dokter Muda tersebut memaparkan beberapa poin-poin penting yang perlu diperhatikan saat menghadapi Covid-19.  Di antaranya berkaitan dengan selayang pandang Covid-19, pematuhan protokol kesehatan, tanggapan mengenai teori konspirasi, penerapan New Normal dan kiat-kiat ketika hidup dalam New Normal.
Tidak lupa, dalam diskusi juga dibuka sesi pertanyaan melalui live Instagram. Ada banyak pertanyaan yang diajukan oleh warganet, namun karena keterbatasan waktu hanya dapat menjawab tiga pertanyaan. 

"Virus Covid-19 memang nyata. Yang harus kita hadapi adalah virus tersebut. Terlepas dari apakah itu konspirasi atau tidak, tapi yang jelas kita harus berperang melawan virus tersebut." Ujar Dokter lulusan SMAN 1 Pacitan tersebut dalam menanggapi teori konspirasi yang beredar di berbagai media sosial. 

Dalam penjelasanya, Dokter Rois juga menyatakan bahwa "Yang banyak melanggar protokol kesehatan adalah anak muda. Anak muda juga yang rentang menjadi OTG (Orang Tanpa Gejala). Sehingga dapat membahayakan orang-orang di sekitar."

Berhubungan dengan New normal, Doker Rois menjelaskan bahwa "New Normal bukanlah hidup normal seperti dulu, melainkan hidup dengan normal yang baru. Normal yang baru adalah kekonsistenan dengan mematuhi protokol kesehatan. Dengan kata lain kita hidup normal namun tetap berdampingan dengan virus tersebut. Adapun New Normal akan berdampak buruk sampai memicu terjadinya gelombang kedua jika tidak ada kesiapan masyarakat dalam melaksanakan syarat-syarat New Normal. Namun dampak positif New Normal adalah kembali tumbuhnya ekonomi."

Program ini sangat penting untuk terus dilaksanakan. Hal ini dikarenakan sebagai perwujudan dari kontribusi nyata sebagai peran pemuda untuk Indonesia dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui diskusi ini, supaya para pemuda terus meng-upgrade diri dengan wawasan dan pengetahuan untuk tetap update dan tidak tertinggal.

Senin, 01 Juni 2020

1 Juni, Merawat Perbedaan.


    1 juni 1945 merupakan momen penting bagi bangsa Indonesia. Sejarah mencatat pada tanggal itu seorang orator ulung bernama Soekarno berpidato menawarkan gagasanya mengenai dasar negara. Kita kenal ide soekarno tersebut dengan nama Pancasila. Walaupun dalam perkembanganya banyak yang dimodifikasi, pidato Soekarno tersebut menutup persidangan yang memakan waktu 3 hari dengan kesepatakan bahwa Pancasila dijadikan sebagai falsafah dasar negara Indonesia yang baru lahir tersebut.

Sampai sekarang bangsa Indonesia tetap merawat ingatan sejarahnya, Terbukti setiap 1 Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila. 1 Juni setidaknya bukan hanya sebagai tanggal merah di kalender tetapi sebagai catatan merah dalam sejarah untuk pengingat kita dalam merefleksikan esensi nilai pancasila. Mengingat dalam perjalananya, seringkali banyak yang mengklaim bahwa dirinya sebagai seorang Pancasilais, bahwa Pancasila rentan dijadikan alat politik, bahwa atas nama Pancasila seorang dapat melegitimasi berbagai kebencian, konflik dan perpecahan, bahwa atas nama Pancasila seorang diktator dapat berkuasa salama 32 tahun, bahwa atas nama Pancasila seorang dengan gampangnya berkata “Anda tidak Pancasilais, keluar saja dari NKRI”. Parah juga ada yang mengatakan bahwa “ Komunis, Sosialis, Liberal dan Khilafah tidak cocok dengan Pancasila, idelogi seperti itu harus dibuang jauh dari Indonesia”. Jika seperti itu, sungguh pemikiran yang anti keberagaman/kebinekaan Apakah seperti itu pancasila?

Kita sepakat bahwa Pancasila adalah pandangan terbuka. Untuk membaca Pancasila, kita juga harus paham bahwa Seokarno memiliki latar belakang pemikiran yang beragam. Pemikiran Seokarno terpengaruhi oleh Marxisme, Sosialisme, Religius, dan Nasionalisme. Sehingga itu mempengaruhi ketika meracik Pancasila. Bumbu pemikiran Soekarno begitu beragam karena ia terbuka dengan segala khazanah pemikiran global. Konsekuensi ketika menjadikan pancasila sebagai pandangan terbuka adalah Pancasila terbuka dengan masukan dari berbagai ideologi dan pemikiran dunia. Terbuka juga bisa diartikan bahwa Pancasila bisa diinterpretasikan oleh semua orang, bukan hanya penguasa. Dengan kata lain Pancasila tidak menutup diri untuk ditafsirkan. Orang Islam berhak menafsirkan karena di sila ke satu berbunyi ketuhanan, seorang nasionalis berhak menafsirkan karena di sila tiga berbunyi persatuan, seorang Sosialisme/Marxisme berhak menafsirkan karena di sila ke 5 berbunyi keadilan sosial. Bukan hanya seorang yang berideologi, namun semua orang berhak menafsirkan Pancasila sesuai dengan latar belakang pemikiranya. Dengan demikian Pancasila bukan seperti dogma yang harus kita imani, akan tetapi sebagai alat berpikir yang dinamis untuk berbagai persoalan bangsa dalam menghadapi perkembangan zaman.


Sebagai seorang konseptor Pancasila, Soekarno mengatakan bahwa Pancasila adalah dasar sebagai pemersatu bangsa. Soekarno memaknai bahwa Pancasila sebagai alat untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang memiliki perbedaan latar belakang aliran politik, ideologi, etnis, suku, agama dan budaya. Bung karno memahami bahwa untuk menjadi bangsa yang satu dan utuh, Indonesia membutuhkan suatu dasar yang bisa mengakomodir berbagai perbedaan. Bukan hanya itu, bagi Soekarno, persatuan adalah jalan satu-satunya dalam memperjuangkan Indonesia untuk merdeka ketika melawan penjajahan. Hal itu karena pergerakan yang dilakukan secara bergolongan akan mudah diruntuhkan. Sehingga Pancasila telah disepakati sebagai meja diskusi dalam membahas masa depan bangsa.

Maka dari itu ketika ada seorang yang memiliki pandangan lain soal dasar negara, tidak layak kita kucilkan,kerdilkan dan tuding sebagai anti NKRI. Karena Pancasila adalah pandangan terbuka atas perbedaan dan penafsiran dan Pancasila sendiri terwujud dari kesepatakan para pendiri bangsa yang memiliki latar belakang berbeda-beda. Bahkan Pancasila sendiri dapat diganti, sebagai dasar negara konstitusi mengijinkan untuk merubah dasar negara. Sehingga sakralisasi terhadap Pancasila adalah hal yang begitu aneh dan mengarah pada fanatisme buta ide. Dengan kita memaknai Pancasila sebagai pandangan terbuka maka kita telah membuat Pancasila menjadi selalu relevan dalam berbagai perkembangan zaman. Sebagaimana sikap terhadap keberagaman, Pancasila harus menjadi alat pemersatu yang mengakomodir berbagi perbedaan di Indonesia.


Garuda Pancasila dengan kaki yang mencengkeram pita bertuliskan "Bhineka Tunggal Ika" yang berarti Pancasila menggenggam erat perbedaan untuk persatuan bukan persatuan yang membeda-bedakan.

Minggu, 12 April 2020

Panik Bukan Solusi

Kepanikan Memperkeruh Kegentingan. 
Kewaspadaan Menjernihkan Kegentingan.

Kepanikan adalah hal yang umum terjadi saat dihadapkan dengan kegentingan. Covid 19 merupakan wabah penyakit yang berskala global, disebut juga dengan pandemi. Semua negara merasakan kegentingan sama. Masyarakat dunia merasakan takut, terancam dan kawatir atas sebaran virus dan beragam kabar buruk yang digaungkan media. Mengingat sampai saat ini korban tewas telah mencapai puluhan ribu secara global.

Akan tetapi, yang tidak kalah bahaya dari ancaman virus tersebut adalah reaksi kepanikan. Kepanikan dapat membawa seseorang untuk bertingkah secara berlebihan hingga kemudian justru bertindak kontraproduktif. Hal itu terjadi karena kepanikan merupakan reaksi awal yang memancing emosional, bukan rasional.

Akibat dari kepanikan justru dapat melahirkan virus-virus baru. Seperti virus kerakusan dengan memborong semua masker, hand sanitazier dan peralatan kesehatan lainya tanpa berpikir kepentingan bersama.

Yang berbahaya lagi dari kepanikan, adalah dapat memicu mental menjadi lemah, sehingga dapat memungkinkan imunitas tubuh menurun dan jika imunitas tubuh menurun maka sangat mudah pula terserang virus.


Memang sulit mengendalikan kepanikan. Namun kita bisa melatihnya dengan mencoba untuk tenang dan mengendalikan pikiran. Bukan kepanikan, melainkan kewaspadaan yang harus kita tanamkan. Dengan selalu waspada kita akan terbiasa untuk melihat situasi secara cermat. Sehingga dengan mudah mengantisipasi kegentingan ini dengan langkah-langkah yang efektif.

Kewaspadaan yang dapat kita lakukan bisa meliputi; menaati prosedur pemerintah, mencari informasi serta saling berbagai berita baik, tetap berdiam diri di rumah (physical distancing) dan mengisi waktu di rumah dengan kegiatan produktif.


"Kepanikan adalah separuh penyakit. 
Ketenangan adalah separuh obat.
Dan kesabaran adalah awal kesembuhan." 
- Ibnu Sina.

Rabu, 19 Februari 2020

Berbagai OKP dan Komunitas Mahasiswa Pacitan Berkumpul Dalam Diskusi Cangkrukan Pemuda.

Berbagai OKP dan Komunitas Mahasiswa Pacitan Berkumpul Dalam Diskusi Cangkrukan Pemuda. 


19 Februari 2020 bertempat di IKM Center Pasaran Sawo, DPD KNPI Kabupaten Pacitan berhasil melaksanakan kegiatan Cangkrukan Pemuda. Kegiatan tersebut mengambil tema "Menakar Keberhasilan Kabupaten Layak Pemuda Sebagai Refleksi Hajatan 275".

Tema yang dibahas dalam acara ini merupakan refleksi kelayakan Pacitan dalam hal kepemudaan berkaitan dengan terpilihnya Kabupaten Pacitan sebagai kota layak pemuda tingkat madya tahun 2019. Sekaligus dalam rangka menyambut hari jadi Pacitan yang ke 275 tahun. 

Kegiatan Cangkrukan Pemuda dihadiri oleh berbagai organisasi kepemudaan dan komunitas mahasiswa di Pacitan.  Di antaranya yaitu HMI,  GMNI, IMM, PMII,  PETUPA,  DPM STKIP, BEM STKIP, BEM STITNU,  BEM STITMUH dsb. Dalam kesempatan diskusi mereka saling bertanya,  memberi masukan dan berargumentasi mengenai berbagai persoalan pemuda di kota Pacitan.
 

"Tujuan kami menyelenggarakan kegiatan ini adalah untuk mempererat silaturahmi antar organisasi kepemudaan dan mahasiswa di Pacitan serta sebagai tempat untuk mewadahi aspirasi pemuda demi terwujudnya pergerakan pemuda Pacitan yang inovatif dan kreatif."  Ungkap Prastyo Aji selaku ketua penyelenggara Cangkrukan Pemuda. 


"Dari terlaksananya Cangkrukan Pemuda tersebut kami berharap ada tindak lanjut mengenai hasil diskusi dan di lain kesempatan ingin berdiskusi lebih intensif dengan menyertakan para pemangku kebijakan supaya aspirasi dapat terdengar secara langsung."  Ujar dari mantan ketua PETUPA tersebut.

Selasa, 18 Februari 2020

Refleksi Pergerakan Permuda, Untuk Pacitan 275 Tahun.

Refleksi Pergerakan Permuda,  Untuk Pacitan 275 Tahun. 

275 tahun merupakan umur yang cukup tua bagi berdirinya sebuah kota.  Pahit manis sejarah dilalui oleh kota ini.  Badai hujan petir masih setia menunggu di depan sana. Kesenjangan sosial,  hegemoni ekonomi, pernikahan dini, rendahnya tingkat pendidikan serta ancaman bencana alam merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi bersama. 

Untuk menjawab persoalan itu dibutuhkan sebuah pergerakan yang mampu memberikan perubahan baru. Demikianlah juga apa yang harus dilakukan pemuda. Sudah seharusnya pemuda sebagai agen perubahan memiliki kepekaan isu sosial dalam upaya untuk menghadapi problematika tersebut. 

Pemuda dan Perubahan sudah menjadi term yang identik.  Ibaratnya kacamata, perubahan ada dalam  kacamata pemuda.  Terlepas apakah kacamata itu dipakai atau tidak. 

Pemuda yang memiliki karakter semangat ber api - api akan terus menyala. Namun,  api semangat seringkali padam. Entah bagaimana tetapi selama bara api itu belum menjadi arang masih ada harapan untuk kembali menyala. 

Akan tetapi juga,  perubahan tidaklah semudah menyalakan api.  Perubahan hanya akan datang kepada orang - orang yang mau berjerih payah.  Ia rela merasakan sengsara dan menunda kenikmatan.  Ia juga rela waktunya dihabiskan untuk berpikir,  beraksi dan berefleksi. 

Pemuda bukan hanya memikirkan dunia asmara tetapi ia harus turut andil dalam memperbaiki kesalahan paradigma.  Pemuda bukan hanya komentar di dunia maya tetapi ia harus berani berbicara dalam aksi nyata.  Pemuda bukan hanya hobi selfie tetapi ia harus mampu bersaing dalam modernisasi.  Pemuda bukan hanya ikut ikut organisasi tetapi ia harus mau mencari jati diri. 

Perubahan bukanlah slogan dan pemuda adalah perubahan.  Seperti itulah pemuda yang kita harapkan bersama. 

Lalu,  yang menjadi pertanyaan. Apakah kita sudah menjalankan tugas kita sebagai pemuda?  Semoga kalian menemukan jawabannya.

Selamat hari jadi yang ke-275 kota tercintaku, Pacitan. Kami barisan para pemuda akan selalu mengawalmu.

Senin, 17 Februari 2020

MAWAS DIRI, NGLARAS BUMI

Aksi dan Diskusi Komunitas Pegiat Lingkungan Memperingati Hari Sampah Nasional. 

Dalam menyambut hari sampah Nasional tanggal 21 Februari 2020,  komunitas pegiat lingkungan yang terdiri dari Guritan, Seasoldier dan Trash Hero Pacitan mengadakan kegiatan Green Camp yang digelar di Pantai Srau pada tanggal 16 - 17 Februari 2020.

Kegiatan tersebut bertemakan Mawas Diri Nglaras Bumi dengan acara inti diskusi lintas komunitas dan bersih - bersih disekitar bibir Pantai Srau.

 "Mawas Diri Nglaras Bumi memiliki arti sebagai langkah kita untuk selalu berhati - hati dalam setiap kegiatan yang kita lakukan untuk bumi.  Bagaimana kita memanfaatkan sumber daya alam dengan bijak dan hidup berdampingan dengan alam secara seimbang" Ujar Hana selaku ketua penyelenggara Green Camp

Adapun peserta dari Green Camp ini terdiri dari berbagai komunitas yang ada di Pacitan,  Ponorogo dan Surabaya.

Komunitas dari Pacitan dihadiri oleh Mapala Kalaphatar,  Petupa,  Anak Sungai,  SMKN 2 Pacitan, Relawan Bencana Pacitan,  Teman Ngopi dan Karang Taruna desa Candi.  Sementara itu, komunitas dari Ponorogo dihadiri  Pustaka Gerilya dan Surabaya dihadiri oleh Seasoldier Surabaya. 

Kegiatan hari pertama adalah diskusi dengan 3 narasumber yakni, Agnesia Walandau dari Seasoldier, Insya Sabirin dari Pacitan Speologi Club Indonesia dan Suwardi dari Komunitas Anak Sungai.  Setelah itu dihari kedua dilaksanakan bersih bersih di sekitar bibir pantai dengan total sampah yang dikumpulkan seberat 60 kg. 

"Tujuan Kami mengadakan Green Camp adalah supaya terjalin guyup rukun antar sesama komunitas dan menguatkan pergerakan dalam menghadapi fenomena krisis lingkungan sebagai upaya mewujudkan bumi yang lestari." Ungkap salah satu anggota Seasoldier Pacitan tersebut.

Jumat, 24 Januari 2020

SEJARAH PETUPA

GAMBARAN PEMUDA UNTUK PACITAN
(PETUPA)

A.     LATAR BELAKANG PEMIKIRAN
        Pancasila menjadi dasar ideologi pergerakan Pemuda Untuk Pacitan.Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa, dapat dimaknai bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dalam perjuangan untuk mencapai kehidupan yang lebih sempurna senantiasa memerlukan nilai-nilai luhur yang dijunjung sebagai suatu pandangan hidup. Nilai-nilai luhur, adalah merupakan suatu tolok ukur kebaikan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat mendasar dan abadi dalam hidup manusia, seperti cita-cita yang hendak dicapainya.
        Pemuda memiliki peran yang penting dalam pembangunan nasional, sehingga perlu adanya wadah organisasi yang bisa memberikan tempat berkumpulnya pemuda untuk merumuskan ide dan gagasan dalam memberikan solusi bagi Kabupaten Pacitan sejahteraan. Oleh sebab itu PETUPA lahir dengan pemikiran pemuda perubahan yang bisa membentuk budaya Pemuda Pacitan yang memiliki jiwa keilmuan, jiwa kemanusiaan, serta akhlak dan moral yang berkarakter kepribadian budi pekerti yang luhur.
        Terkait dengan keilmuan, ilmu didapat bisa dari bangku pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Dari segi ini kita bisa lihat potensi Sumber Daya Manusia yang ada di Kapubaten Pacitan sangat luar biasa. Jika kita tilik dalam data setiap tahunnya ada -+ 500 pemuda yang mulai duduk dibangku pendidikan Perguruan Tinggi negeri maupun swasta dalam bidangnya masing-masing. Tetapi fenomena yang nampak dalam generasi Pemuda Pacitan dulu ialah sikap apatisme dan kurang adanya wadah dalam mengaplikasikan ilmu dan pengetahuan sehingga Pemuda bisa dikatakan non produktif. Oleh sebab itu PETUPA didirikan karena keinginan untuk dapat mewadahi Pemuda Pacitan dalam mengaplikasikan ilmu dan pengetahuannya. PETUPA memandang bahwa untuk membentuk karakter dan budaya pemuda yang memiliki keilmuan, tidak hanya seorang yang mengenyam pendidikan saja, tetapi semua kalangan pemuda dari kalangan pemuda pekerja, pemuda pelajar, dan pemuda mahasiswa juga dapat dikolaborasikan dalam ikatan organisasi dengan corak yang berbeda-beda dan pengalaman yang berbeda-beda pula, maka ilmu itu akan terbentuk dengan dibenturkan.
        Terkait dengan jiwa kemanusiaan, pemuda zaman modern memiliki individualis yang sangat luar biasa pula. Jika kita tilik kembali keterkaitan kemanusiaan itu mengacu terhadap keikutsertaan pemuda dalam melihat, mendengar, dan menilai mengenai fenomena sosial. Padahal kemanusiaan ini merupakan bagian terpenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu perlunya penanaman jiwa sosialis yang tinggi, sehingga pemuda berperan aktif dengan sadar.
        Kepribadian pemuda merupakan kepemimpinan pemuda dalam mewujudkan etika sopan santun yang memiliki tanggung jawab dalam setiap norma sosial yang diembannya. Artinya jika seorang dikatakan pemuda berarti pemuda harus berbuat untuk Bangsa dan Negara  entah dengan cara apapun yang berujung kemanfaatan. Oleh sebab itu pemuda harus memiliki kepribadian yang berani dalam menyampaikan ide gagasan, berani dalam bertindak, berani berkorban demi kepentingan Bangsa dan Negara, dan berani menegakkan hukum keadilan.

B.     PERISTIWA BERSEJARAH
Perkembangan organisasi Pemuda untuk Pacitan tidak lepas dari catatan sejarah yang telah dicetuskan oleh Pendiri PETUPA. Catatan peristiwa bersejarah tersebut dibagi menjadi beberapa penjelasan  seperti yang tertulis dalam wacana di bawah ini.
1.      Deklarasi Organisasi
Nama Pemuda untuk Pacitan atau PETUPA merupakan sebuah nama organisasi yang disepakati oleh pendiri dan jajaran pengurus secara final. Tetapi menilik dari serangkaian sejarah 3 tahun kemarin sebelum nama organisasi ini menjadi PETUPA ada beberapa nama lain yang sudah pernah menjadi nama organisasi antara lain; IPR (Ikatan Pemuda Revolusioner), HIPPA (Himpunan Pemuda Pacitan), dan akhirnya menjadi nama PETUPA (Pemuda Untuk Pacitan). Deklarasi  Pemuda Untuk Pacitan (PETUPA) didirikan di Pacitan dan terdeklarasi pada, tanggal 18 Juli 2013 waktu 22.25 WIB di kediaman rumah Bapak Suherman Jl. Janur Sari No.5 Perumnas Bangunsari Pacitan.
2.      Pembuatan Lambang Organisasi
Pembentukan lambang organisasi ini di buat oleh pendiri Pemuda Untuk Pacitan (PETUPA) yang mengacu terhadap cita-cita, keinginan, dan harapan berdirinya organisasi Pemuda Untuk Pacitan. Pembuatan lambang ini terjadi pada tanggal 4 Agustus 2013 pukul 21.30 WIB di kediaman rumah Bapak Sudarno RT.01 RW.06 Bangunsari, Pacitan.

 

Gambar Lambang Organisasi Pemuda Untuk Pacitan
                   Filosofi Lambang :
·         Bintang berwarna emas:
Berdasarkan sila ke-1 Pancasila yaitu Ketuhanan YME. Kita melangkah, bertujuan berdasarkan Ketuhanan YME.
·         Kayon/Gunungan belapis Emas :
Kekarep/Harapan yang seperti emas, mahal, besar, tinggi, dan selalu diharapkan orang-orang untuk dimiliki.
·         Tangan menengadah dengan di bawah nama PETUPA:
Dalam proses mencapai sebuah harapan dan tujuan bersama selalu dilakukan dengan bersama-sama, saling bahu-membahu, dan saling mengisi satu dengan yang lain. PETUPA adalah kita Pemuda Untuk Pacitan tanpa memandang status dan jabatan kita tetap saudara.
·         Peta Pacitan yang dikelilingi Padi dan Kapas :
Yaitu harapan dan tujuan itu untuk menjadikan kota Pacitan menjadi makmur dan sejahtera sehingga terciptanya keadilan sosial bagi rakyatnya.
·         Warna merah :
Melambangkan keberanian, pantang mundur dan semangat yang membara dalam berusaha mencapai harapan dan tujuan.
·         Warna Putih dalam kayon :
Melambangkan kesucian dan ketulusan dari hati yang paling dalam dari apa yang kita lakukan, kita harapkan.
·         Warna hitam melapisi lingkaran :
Kuat, teguh dan tidak mudah diintervensi oleh siapapun dan bagaimanapun tetap pada komitmen, niat dan tekad.

C.     TUJUAN ORGANISASI
Perumusan Visi dan Misi merupakan bagian dari arah organisasi yang bertujuan untuk mewujudkan tujuan organisasi. Visi dan Misi Pemuda untuk Pacitan mengacu terhadap wacana latar belakang pemikiran, keinginan, harapan, cita-cita, dan ideologi organisasi Pemuda untuk Pacitan.
a)      Visi Pemuda untuk Pacitan
“Terbinanya pemuda yang memiliki religiusitas, moralitas, jiwa kemanusiaan yang turut bertanggungjawab untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera”
b)     Misi Pemuda untuk Pacitan
1.      Menumbuhkan kesadaran akan kedudukan manusia sebagai ciptaan Tuhan, khalifah Tuhan di muka bumi dan menjalankan perintah-perintah Tuhan.
2.      Membentuk pemuda yang memiliki jiwa kepedulian terhadap kemanusiaan, memiliki giroh patriotisme dan jiwa nasionalisme.
3.      Mengembangkan potensi kreatif terhadap berbagai aspek kehidupan.
4.      Mengambil peran aktif dan mewarnai dunia kemasyarakatan dengan inisiatif partisipasi yang kontruktif, kreatif, sehingga tercapainya nuansa tatanan masyarakat yang adil dan sejahtera.
5.      Membangun kerja sama dengan organisasi kemasyarakatan lainnya yang berlandasan pada nilai kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan.
6.      Usaha-usaha lain yang sesuai dengan asas organisasi dan berguna untuk mencapai tujuan.
Visi dan misi organisasi diatas terangkum dalam sebuah falsafah Pemuda untuk Pacitan yang berbunyi “Ngupadi Waluyaning Bangsa Lan Negoro Satemah Jati, Jati Temah Nirmala”. Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia bermakna “keikutsertaan pemuda dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara dengan giroh semangat yang membara dan santun sehingga bisa mewujudkan suasana kehidupan yang adil dan sejahtera”
D.    PROGRAM KERJA
Program kerja merupakan bagian dari kinerja dan gerak organisasi dalam mewujudkan visi dan misi organisasi. Prorgam kerja pengurus Pemuda untuk Pacitan terangkum dalam penjelasan di bawah ini.
1.   Youth Alliance Rendezvouz
Youth Alliance Rendezvouz merupakan tema besar yang dipakai dalam acara tahunan aksi Pemuda untuk Pacitan. Acara ini merupakan serangkaian strategi untuk mempromosikan pentingnya pendidikan formal, pendidikan budaya, dan pendidikan politik dalam kehidupan sehari-hari. Dari ketiga inti dari acara tersebut satu per satu dapat dimaknai sebagai prinsip Pemuda untuk Pacitan dalam berproses. Prinsip ini merupakan konsep strategi PETUPA dalam bersosialisasi dan menyuguhkan sajian bermakna dalam kehidupan sosial masyarakat. Acara yang diangkat dalam Youth Alliance Rendezvouz di antaranya ialah ;
a)      Campus Fair
Pendidikan formal merupakan bagian penting dalam mencapai kualitas sumber daya manusia, dengan pendidikan maka individu akan bisa menciptakan pembangunan bangsa dan negara sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi  yang didapat pada bangku pembelajaran. Dari uraian ini PETUPA mengadakan kegiatan “Campus Fair”. Campus Fair ini merupakan sarana penginformasian dan sosialiasi kepada adik-adik kita yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Harapannya dengan adanya Campus Fair adik-adik kita memiliki pemikiran dan harapan yang luar biasa terhadap pendidikan. Di sisi lain dengan adanya kegiatan ini silaturahmi akan tetap terbangun dari generasi ke generasi. Sehingga terwujudlah suasana kepedulian dan kekompakan Pemuda Pacitan.

b)     Sinau Budaya
Sinau budaya merupakan tema besar yang diangkat oleh Pemuda Pacitan dalam perkembangan isu mengenai kurangnya minat pemuda terhadap budaya di negeri sendiri. Pemahaman kata “Sinau” ialah belajar, belajar tanpa henti terhadap seni yang telah dilahirkan di tanah Ibu Pertiwi.  Jika kita bisa memaknai kata belajar dalam konteks seni, “yang namanya belajar seni itu ya harus datang, rajin menyaksikan, dan ikut andil dalam proses belajar seni, dengan demikian kita akan cinta terhadap seni yang telah ada di tanah air”. Strategi ini merupakan bagian pemikiran PETUPA yang tidak bisa dipisahkan untuk mencapai pemuda dan manusia pribumi yang bangga dan cinta akan seni budayanya.
c)      Konsolidasi Pemerintah
Pemerintah merupakan bagian sentral dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Sosialiasi pemerintah terhadap program kerja menuju kesejahteraan mayarakat sangat penting dipertanyakan. Tidak mungkin ada pemerintah jika tidak ada rakyat, dan pemerintah seharusnya merakyat, itu merupakan suatu kewajiban. Giroh pemuda sebagai sosial kontrol ialah memberikan sumbangsih pemikiran terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah Kabupaten Pacitan, sehingga terwujudlah demokrasi yang terbuka dan transparan. PETUPA dengan barisan massa mahasiswa yakin bahwa dengan adanya sambung silaturahmi seperti ini akan terwujud budaya yang guyub dan berpihak terhadap rakyat, karena semua orang pasti menginginkan kesejahteraan, bukan ketidakadilan dan penindasan. 
2.      Bakti Sosial
Merujuk kepada program kerja yang lain dari organisasi yang berlambang kayon ini. Pada setiap bulan Ramadan PETUPA juga mengadakan kegiatan yang tak lepas dari pandangan mata masyarakat Kabupaten Pacitan.  Acara tersebut bernama “Bakti Sosial Turun Jalan”. Bakti sosial ini juga merupakan program kerja agenda tahunan PETUPA yang dilaksanakan di jalan dengan menyajikan sajian penampilan seni pemuda. Kemudian hasil amal yang didapat akan didonasikan kepada warga Pacitan yang kurang mampu dan layak diberi santunan. Kegiatan ini merupakan kegiatan sosial yang dilaksanakan guna melatih jiwa kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

E.     PILAR NIRMALA
Pilar Nirmala merupakan bagian yang masuk dalam etika dan kepribadian anggota Pemuda Untuk Pacitan (PETUPA) yang harus diamalkan dalam gerak organisasi. Terbagi menjadi 4 asas antara lain:
1.      Asas Kekeluargaan
Asas kekeluargaan dimaknai menjadi ikatan persaudaraan organisasi yang memiliki visi & misi serta tanggung jawab yang sama dalam kedudukannya sebagai anggota dan pemuda. Dalam asas ini organisasi Pemuda untuk Pacitan (PETUPA) memaknai bahwa organisasi ini merupakan rumah tempat tinggal, di mana setiap anggotanya harus menempati dan merawat hubungan silaturahmi agar tercipta suasana yang harmonis. Saling menghamat-hamati mengingatkan untuk kepentingan yang lebih baik.
          2.      Asas Kepercayaan
Asas kepercayaan merupakan manifestasi dari faktor pemikiran, penilaian dan tindakan yang merujuk terhadap pemaknaan yang positif terhadap hubungan antar anggota. Asas ini dalam Pemuda untuk Pacitan menjadi bagian utama dalam membangun sumber daya manusia yang bisa menerima hak dan kewajiban seseorang tanpa beban.
3.      Asas Keterbukaan
Asas keterbukaan dalam Pemuda untuk Pacitan dimaknai dengan adanya memberikan informasi secara jujur dan dilandasi rasa keadilan, sehingga masing-masing pihak mengetahui secara jelas tentang manfaat, hak, dan kewajiban.
4.      Asas Gotong Royong
Asas gotong royong dimaknai Pemuda untuk Pacitan bahwa dalam proses mencapai sebuah harapan dan tujuan bersama haruslah dilakukan dengan bersama-sama, saling bahu-membahu, dan saling mengisi satu dengan yang lain. PETUPA adalah kita Pemuda Untuk Pacitan tanpa memandang status dan jabatan kita tetap saudara.

Sinergitas Sebagai Upaya Pelestarian Budaya

Harapan kami mulai tercerahkan dengan tersebarnya pamflet yang mengusung tema "Ngobrol Bareng Mas Bupati dengan Pelaku Seni...